Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

sembuh

gundahku lama bermukim di pembuluh dengan berpeluh kau coba urai dan mengerti tentang lara yang purba meradang perihal nyawa yang berdenyut di aksara dan setiap sudut yang menyala dan redup setia kaunanti kalbuku sembuh dari renjana aku dari pahit yang tersesat di pena namun, letupan sajak di nadi tak reda meski semakin liar waktu berjatuhan di pundakmu mendekap nanti hanya menambah sesak candu yang enggan tidur; lelehan diksi menjadi elegi beserta ramai dalam dada ini dan isi kepalaku terlalu berserakan untuk aku sembuh dari menulis.

lepas

sunyi sedang tersedu bahasaku dilumat malam; seusai kita meramu peluk pintu purnama tersingkap dingin tak lagi buta terbit bibirmu yang hangat menyalakan debar menyurutkan jantung waktu. pundakmu persilahkan rinduku rebah dan gugur serta rindumu lepas dan tenggelam di tubuhku.

tiadamu

pahit menelan waktu melepas genggam jejakmu dari sudut bibir dan ujung jemari. suram yang mekar bersama sirna kunyalakan, dan rintik sedih berubah sederas sembilu. baumu tersesat di tubuhku telah menemui ketiadaan tertimbun hari. pahit sekedar mengingat manis, dahaga akan memoria yang mustahil diupayakan. cinta masih bernyawa, kamu tidak .

akhir

aksara setia tampung air sembilu namun, kepalaku butuh pendengar sedang aku tak mau fungsi di tempat ramai. jantungku setia memeluk walau sejak lama aku benci mendengar nafasnya. "payah. kamu payah.  di ruang fana, hadirmu tak butuh,  dimana pun kakimu membawa, tak perlu." tangan kulambai ke arah detak aku menjumpai akhir .

semoga

21 September 2016 "Saya pengen ngobrol sama kamu." "Kita udah ngobrol sekarang." "Saya maunya ketemu." Mengiyakan, kemudian kedua dari kami memangkas jarak, namun ada jarak satu dengan yang lain semakin jauh.

baru

belum genap satu bulan memulai lembar baru sebuah proses, berdinamika. janji-janji dan komitmen yang sempat diikrarkan sebelum berpisah perlahan terkikis. bisa dengan atau tanpa sengaja lupa.

dari langit.

/1/ aku terus menangis perihal lukaku yang tak berdarah lebih pedih /2/ bercermin pada malam-malam saat aku lelap mengulum senyuman /3/ waktu-waktu buta selalu deras berderai tangis awan tak mampu lenyapkan bintang di matamu dari ingatan /4/ tetaplah tinggal aku ingin mencintaimu lebih khusyuk seumpama panjatan doa

Untuk Tuan

perlahan-lahan habis dan luruh-luruh bagai surga dalam bilik berlirik kosong karena hampa mulai penat ke entah berantah.  tanganmu mulai capai disulut ingatan, dilucuti kenangan matamu masih gapai- dada dada letih