Langsung ke konten utama

Postingan

sabtu

kabut renjana terlalu menyesakkan, kau dan aku enggan bertukar gumam hingga kicau malam menggantikan deras matahari dan langit serta-merta sunyi. di hadapanku secangkir sepi yang kukarang sendiri pun bersamamu secangkir entah, kau dan aku masih tak menemui diksi hingga tiba elegi jingga di panggung semesta. kau dan aku masih sibuk memeluk geming hingga merah di timur terjaga kembali. kau dan aku hingga sabtu

sesal yang kekal

perihal waktu yang mustahil membeku beserta isi kepala dengan rontanya, hidup menepuk pundak, bersamanya gesa. bergeming pikirmu cukup, mengelak untuk kau injak ekornya. memburumu. tuli, sampai sapa angin tak teraba indra. hanya sia-sia yang utuh tanpa jejak sisa. sementara begitu tipis ia membalutmu, jasad yang kau sangka tak terusik usia. dalam sadar kau hambur pendar kuasa berkali terulang hingga buta, membatu. membatu di dalam sesal yang kekal.

pelik

renjana tak libur bersembunyi, pahit diseduh di teras hati. fajar semerbak mengusir gusar atas rindu yang sesadis luka– hadiah dari curangmu masih terjaga di samping porak poranda asa. telah kubunuh bayangmu di kepala tanpa terhitung kali, tetapi dalam sanubari namamu masih– berdenyut; merampas waras

sembuh

gundahku lama bermukim di pembuluh dengan berpeluh kau coba urai dan mengerti tentang lara yang purba meradang perihal nyawa yang berdenyut di aksara dan setiap sudut yang menyala dan redup setia kaunanti kalbuku sembuh dari renjana aku dari pahit yang tersesat di pena namun, letupan sajak di nadi tak reda meski semakin liar waktu berjatuhan di pundakmu mendekap nanti hanya menambah sesak candu yang enggan tidur; lelehan diksi menjadi elegi beserta ramai dalam dada ini dan isi kepalaku terlalu berserakan untuk aku sembuh dari menulis.

lepas

sunyi sedang tersedu bahasaku dilumat malam; seusai kita meramu peluk pintu purnama tersingkap dingin tak lagi buta terbit bibirmu yang hangat menyalakan debar menyurutkan jantung waktu. pundakmu persilahkan rinduku rebah dan gugur serta rindumu lepas dan tenggelam di tubuhku.

tiadamu

pahit menelan waktu melepas genggam jejakmu dari sudut bibir dan ujung jemari. suram yang mekar bersama sirna kunyalakan, dan rintik sedih berubah sederas sembilu. baumu tersesat di tubuhku telah menemui ketiadaan tertimbun hari. pahit sekedar mengingat manis, dahaga akan memoria yang mustahil diupayakan. cinta masih bernyawa, kamu tidak .

akhir

aksara setia tampung air sembilu namun, kepalaku butuh pendengar sedang aku tak mau fungsi di tempat ramai. jantungku setia memeluk walau sejak lama aku benci mendengar nafasnya. "payah. kamu payah.  di ruang fana, hadirmu tak butuh,  dimana pun kakimu membawa, tak perlu." tangan kulambai ke arah detak aku menjumpai akhir .

semoga

21 September 2016 "Saya pengen ngobrol sama kamu." "Kita udah ngobrol sekarang." "Saya maunya ketemu." Mengiyakan, kemudian kedua dari kami memangkas jarak, namun ada jarak satu dengan yang lain semakin jauh.