Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Sesuatu

seonggok bait dicekam dingin penulisnya sibuk bercinta dengan detak lalu dikumpulkan diksi dari lelehan darah kulitnya meringis ternganga telinganya masih menangkap ribut di pembuluh beribu kali ia berbisik sendiri pada peluknya; luka itu hidup tertanam di lorong kepalanya. tentu, ia masih ingin dan barisan merah ngeri itu bukti ia mampu rasakan sesuatu.

Utuh

hatiku gerogoti semu dalam gigil usaha memeluk diri tiada hasil hanya sepi setia tak meredup. tak singgah di kepalamu ingatan akulah yang semula menyalakanmu hingga api egomu raksasa hatimu hangus, abu menjadi sisa setelah semua malah kau menjelma petir rapuhku tak mampu jinakkan terlebih kilat rindu yang menyambar. lalu kau asingkan diri dari hidupku meski tak pernah purba dari ingatan juga matamu saat kubaca dusta tinggal aku mengupayakan kembali utuh.

Mungkin

kuharap senja tak memiliki ujung terlebih senja dimana kau rengkuh aku yang cukup ternodai sembilu untuk kau ukir bahagia lewat tanganmu yang menyapu bersih keganjilan sukma meski jingga harus dikubur rembulan dibenamkan gulita tak berkesudah biarkan aku rebah di pelataran matamu mungkin iya atau mungkin bukan akulah rusukmu yang hilang.

Siapa?

inderaku menyadari ada sesuatu yang kau cari dan sebuah pasti dari kejam kepalamu tercabik asa semu tiada henti nestapa waktu namun bukan aku jawaban seharusnya untukmu atas tanya dan ragu bukan aku yang kau cari jangan dulu kau penggal hati bisa racunku membuat mati rumit dan berkelok menerjemahkan jantungku pada siapa debar dituju bila bukan aku jawabmu

Hampa

dimana aku tak lagi merasakan asin air laut atau deburan ombak di tepi menghantam bagai maut dimana semua inderaku tak mengenali rasa tak lagi mengenali warna entah itu gelap atau kelabu jasad tak berjiwa gugur sebelun musim tiba layu sebelum terbakar surya aku habis, aku hampa

Dua

tak pernah sesuatu begitu mencekik seperti sebuah dua yang engkau coba diam di antara hingga akal sehat tertelan waktu resahmu tak kunjung purba hampir mati kau retas dilema berbuah lalu lalang sembilu dan kau tak kunjung sampai pada pilihanmu; antara dua yang berebut di kepalamu antara dia atau dirinya yang layak kau beri hatimu

Apalagi?

sepasang tungkaimu tampak kuat meski derita rembulan kau pikul di pundak. sekali kau tenggak perih luka sendiri menelan pahit derita diri dengan itu, hatimu diisi. hingga bagimu jatuh cinta pun terasa hambar karena banyak sakit yang mengakar, bahkan subur berbuah di dasar rusuk. "apalagi?" serumu, sembari merebut kembali nafasmu, hanya jejak pilu kau dapati. bagaimana bisa jatuh cinta lagi dengan nafas yang tak lagi utuh dan pecahan hati tercecer di ambang pintu asa pun meluruh.

Pembunuh

majas-majas itu membakar habis paru-paruku sial. mengikat, memburu, menghantui. kala lenggang, suram atau ramai-ramai tetap, mereka mengancam. membujuk kakiku melemah, meminta jiwa tanggalkan diri dari ringkuk rapuh tubuhku agar aku kembali sendiri, agar seisi kepalaku berontak membenci tubuh ini, agar aku lekas mati.

Merampas

kau adalah mimpi mimpi di pagi dan malamnya baik lelap maupun terjaga mimpi yang erat dalam genggamnya kau adalah mimpi yang ia tanam dan tumbuh subur dimana aku menjadi hama porak-porandakan harapannya

Pulang

dengan mudahnya kau terselip di antara diksi dan sajak yang terlampaui banyak menimbun gelap, sepi, luka, biru menjadi manis pahit rindu dari lama menahun tenggelam, lelap bahkan aku tak memahami saat mereka mengetuk masuk datangi dari masa lalu

Sesak

berlalu lalang aku dipenuhi suara insan namun aku mengecap getir sepi banyak jiwa banyak mata hampir berdesak namun aku masih sendiri ramai ruangan terisi suara-suara berebut menyelinap telingaku namun masih sunyi hati

Gelap

setiap malam kamu mampu membacaku bahwa aku terjaga saat gelap dengan nyala lampu meja kau eja luka di tubuhku denganmu, diriku tersingkap luas, bahkan terlalu jelas

Sembunyi

sebut saja aku begitu aku mampu menyelinap kala ingin kau bunuh gigil dengan pelukku yang hangat aku pula yang rajin merayap diam-diam ke kamarmu di sudut pikirmu lalu aku hinggap begitu seterusnya aku ini untukmu walau diam walau kubawa sembunyi kekasihmu tak akan tau bahwa selama ini aku tak biarkanmu menangis, layu bahwa selama ini aku bersedia menjadi tempat keluhmu ia takkan tau selama inilah aku yang selalu ada buatmu, tempatmu datang menjadi pelarian kekasihmu tak akan tau. /1/

Ruang Kosong

di ruang itu tak seharusnya ia duduk meski sedikit menepi ia tak takut terjatuh. matanya berpencar apa yang akan ia isi di sudut ruang itu walau paru-parunya terjamah debu ia menetap disitu menjemput cahaya yang nyanyinya meredup. terkadang ia tidak tinggal diam sementara dibiarkan sepatunya mengoyak langkah kakinya mondar mandir di ruang kosong itu dipenuhi dengan bekas dan jejak hadirnya. ia tak berniat pergi, belum. meski tak ada yang bisa ia temukan ia masih tinggal enggan membawa tubuhnya keluar. belakangan ia tahu ruangan itu adalah dirinya semenjak perginya gadis itu.

Doubt

is that you? is that you that I've been looking for so long? my eyes are tired from looking and my hands are too sick from shaking feeling cold but you're odd you give me the whole galaxy and butterfly inside my belly to fall asleep feeling that way yet another day i feel so uncertain about us and how I left out how I sit for hours in my room crying unable to sleep don't lead me on saying things you aren't gonna fulfill toxic poison behind your sweet talk and mostly to convince me that you're in love some days I hope we're fine enough so that I hope something good as how we would end up with but some other days I am empty and numb I'm seeing you as grey and not flaming red if only your heart beats for me like I do for you if only your lungs filled with me like I do for you just tell me if you do so don't leave me hanging I have nothing to hold onto except I have faith that I lay on you don't leave me in...

Last

Been a long time I didn't babbling myself out in this site. And so today as the last day of February in leap year, I decided to fill some of my pages here. I wasn't sure what I'm going to write, and I stayed still with my ugly grammar in English as my non native language, but too lazy to correct myself up and learned some.

-

waktu sibuk dilucuti rindu merasuk menggenggam kalbu entah dimana harus berguru perangi kangen di hulu lalu kutempatkan rindu di sepatu terkoyak aspal lagi kakiku itu mula pengharapanku tak disangka rajin ia mengikutiku tubuhku penuh lebam ungu enggan bergerak karena kaku atau hati telah terlalu beku penawar yang kumau hanya kamu

Lewat Tengah Malam

jam dinding berhenti bercerita kisah haru malam itu atau karena kau hadiahi tawa agar aku sembuh dari sendu semenjak ada hadirmu tiada kutulis sajak biru yang ada hanya rindu lagi tawamu bersuara syahdu lewat tengah malam itu serasa milik kau dan aku walau terpaksa dijemput kecewa berpisah sebelum fajar tiba rela kutunggu lain waktu suatu saat dalam temu

I

some said find happiness within you but what if i was covered in sorrow i drew myself close with gloomy and i had no idea how to be happy i wanted people to come and love me but here i was, kept hating on me my head still filled with the thoughts which seem to be always push me down to the rough a wasted space useless

Selasa

setiap minggu kusimpan tunggu hari senin masih kurasa jemu lalu selasa kita bertemu bagai gugur gelisah karnamu dan kuselipkan doa di tiap senyummu agar kelak kau akan tahu telah sampai asamu padaku yang sudah kau rajut sejak dulu janganlah berlagak beri semu padahal dada tertancap rindu sedang rasa tak akan layu hanya suara merasa tersipu kata-kata terkulum karna malu malah ada lembayung di pipimu

-

kala petang beralih jadi malam aku kewalahan membunuh waktu tanpa mengingat senyummu menyaingi terik tadi siang niat hati istirahatkan raga merebahkan penat seharian tetapi di setiap sisi bantalku kau tak luput dari ingatan apalagi sengaja ku pandang langit-langit kamar tadinya kusam masih jua ronamu yang ku ingat serta gerak-gerik tersipu

Kamu

sebuah nama yang tiba-tiba mengusik menggugurkan duka di pelupuk mata merampas luka di penghujung senja menggantikan dengan sebuah rasa yang buat lutut tak lagi berkutik begitu banyak kamu dalam doa kupanjatkan baik ketika kemarau hingga datang lagi penghujan tak letih mengharapkanmu mengaminkan tak jera sajak tak bertitik kulayangkan ku tahu takdir 'kan datangkan kamu ke pelukan

Enam

pengutuk enam pagi yang amat tergesa waktu paling hebat dihujami akan kamu sekedar khayal maupun nyata tiada beda baik raga dan otakku hafal tanpa jemu begitulah jarak pemisah aku dan kamu antara pengidap lalu si penawar rindu terperangkap ego dan jarahan rasa malu batin tanyakan hanyakah berbuah semu? penikmat enam sewaktu merekah senja menyesap kopi panas berukir wajahmu meluluhkan hati dari muram durja jua seharian letih bekerja memahat pilu begitu payah kuakui diri tanpa kamu begitu jauh enam dilalui agar bertemu namun sesungguhnya bila kau tahu tanpa letih diriku disini menunggumu

Januari

Desember kemarin aku menyantap rayumu bagai sarapan Desember kemarin siang hari pun wajahmu dipenuhi senyuman Desember kemarin senja bersamamu kuhabiskan Desember kemarin melainkan bintang namun matamu berkilauan Desember kemarin jemarimu hangat ketika kau tautkan hingga Januari dengan geram menjumpai hingga Januari merenggutmu, Desemberku aku yang semula utuh menjadi serpihan aku yang gemulai mencinta menjadi kaku aku yang banyak bicara perihal kamu menjadi bungkam aku yang kini hanya dapat mengenangmu dalam ingatan aku yang hanya bertemu denganmu lewat tulisan padahal Januari tak pernah sekejam pergimu tak sepahit 'selamat tinggalmu' tak segetir ingatanku tentangmu