belum genap satu bulan memulai lembar baru sebuah proses, berdinamika. janji-janji dan komitmen yang sempat diikrarkan sebelum berpisah perlahan terkikis. bisa dengan atau tanpa sengaja lupa.
matahari tenggelam dan terbit lagi, menambah tumpukan pergantian hari dan menebalnya memori yang harus tertampung. lama kelamaan entah.
tidak sedikit bekas kaki dari lembaran sebelumnya masih tebal, untuk hujan masih urung datang membawa pergi karena tahu tak akan terhanyut. aku masih memaksa kepalaku mengingat untuk lupa dan aku masih bertemu jawaban yang sama kalau itu semua mustahil terwujud.
rasanya banyak karakter dan wajah baru yang aku kenal, manis tapi pahitnya ketika salah satu atau dua mengingatkan kembali pada jejak yang enggan terhapus.
seperti sebuah pagi yang mempertemukan diri pada sebuah pertemuan dimana kepalaku tersiksa mengingat bahwa pernah ada sosok yang pernah melakukan hal serupa, tapi pagi itu mataku menyaksikan dia bukanlah orang yang sama.
atau seminggu terakhir yang sama menyiksanya, bertemu karakter yang telah mendarah daging menjadi identitas melekat pada seseorang yang lebih dahulu kukenal, yang kuingat namun dalam tubuh dan wajah yang berbeda.
sosok-sosok itu tidak pernah abu-abu di lembaran album perjalanan waktuku, walau kertasnya telah usang. mereka masih sama berharganya dengan raut warna pelangi.
aku terlalu akrab dengan benak sampai aku tidak lagi sungkan berbisik padanya bahwa satu dua lebih orang sebagai tokoh yang baru bermunculan, memantik kepalaku untuk ingat mereka atau kamu yang lebih dahulu aku kenal, walaupun mereka tetaplah berbeda.
di tengah-tengah aku dikelilingi kerumunan, kepalaku selalu berlayar pergi hingga kesadaranku sampai pada tempat dimana aku tak sendiri tapi tak juga tak sendiri. warna, wajah, karakter, orientasi, hasil galian benak dari latar berbeda. jauh, yang nanti membentukku menjadi aku yang diperbaharui. aku yang baru.
matahari tenggelam dan terbit lagi, menambah tumpukan pergantian hari dan menebalnya memori yang harus tertampung. lama kelamaan entah.
tidak sedikit bekas kaki dari lembaran sebelumnya masih tebal, untuk hujan masih urung datang membawa pergi karena tahu tak akan terhanyut. aku masih memaksa kepalaku mengingat untuk lupa dan aku masih bertemu jawaban yang sama kalau itu semua mustahil terwujud.
rasanya banyak karakter dan wajah baru yang aku kenal, manis tapi pahitnya ketika salah satu atau dua mengingatkan kembali pada jejak yang enggan terhapus.
seperti sebuah pagi yang mempertemukan diri pada sebuah pertemuan dimana kepalaku tersiksa mengingat bahwa pernah ada sosok yang pernah melakukan hal serupa, tapi pagi itu mataku menyaksikan dia bukanlah orang yang sama.
atau seminggu terakhir yang sama menyiksanya, bertemu karakter yang telah mendarah daging menjadi identitas melekat pada seseorang yang lebih dahulu kukenal, yang kuingat namun dalam tubuh dan wajah yang berbeda.
sosok-sosok itu tidak pernah abu-abu di lembaran album perjalanan waktuku, walau kertasnya telah usang. mereka masih sama berharganya dengan raut warna pelangi.
aku terlalu akrab dengan benak sampai aku tidak lagi sungkan berbisik padanya bahwa satu dua lebih orang sebagai tokoh yang baru bermunculan, memantik kepalaku untuk ingat mereka atau kamu yang lebih dahulu aku kenal, walaupun mereka tetaplah berbeda.
di tengah-tengah aku dikelilingi kerumunan, kepalaku selalu berlayar pergi hingga kesadaranku sampai pada tempat dimana aku tak sendiri tapi tak juga tak sendiri. warna, wajah, karakter, orientasi, hasil galian benak dari latar berbeda. jauh, yang nanti membentukku menjadi aku yang diperbaharui. aku yang baru.
Komentar
Posting Komentar