Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2017

tiadamu

pahit menelan waktu melepas genggam jejakmu dari sudut bibir dan ujung jemari. suram yang mekar bersama sirna kunyalakan, dan rintik sedih berubah sederas sembilu. baumu tersesat di tubuhku telah menemui ketiadaan tertimbun hari. pahit sekedar mengingat manis, dahaga akan memoria yang mustahil diupayakan. cinta masih bernyawa, kamu tidak .

akhir

aksara setia tampung air sembilu namun, kepalaku butuh pendengar sedang aku tak mau fungsi di tempat ramai. jantungku setia memeluk walau sejak lama aku benci mendengar nafasnya. "payah. kamu payah.  di ruang fana, hadirmu tak butuh,  dimana pun kakimu membawa, tak perlu." tangan kulambai ke arah detak aku menjumpai akhir .