perihal waktu yang mustahil membeku beserta isi kepala dengan rontanya, hidup menepuk pundak, bersamanya gesa. bergeming pikirmu cukup, mengelak untuk kau injak ekornya. memburumu. tuli, sampai sapa angin tak teraba indra. hanya sia-sia yang utuh tanpa jejak sisa. sementara begitu tipis ia membalutmu, jasad yang kau sangka tak terusik usia. dalam sadar kau hambur pendar kuasa berkali terulang hingga buta, membatu. membatu di dalam sesal yang kekal.
semua yang tertuang di lembar ini adalah fiksi.