sepasang tungkaimu tampak kuat
meski derita rembulan kau pikul di pundak.
sekali kau tenggak perih luka sendiri
menelan pahit derita diri
dengan itu, hatimu diisi.
hingga bagimu jatuh cinta pun terasa hambar
karena banyak sakit yang mengakar,
bahkan subur berbuah di dasar rusuk.
"apalagi?" serumu,
sembari merebut kembali nafasmu,
hanya jejak pilu kau dapati.
bagaimana bisa jatuh cinta lagi
dengan nafas yang tak lagi utuh
dan pecahan hati tercecer di ambang pintu
asa pun meluruh.
meski derita rembulan kau pikul di pundak.
sekali kau tenggak perih luka sendiri
menelan pahit derita diri
dengan itu, hatimu diisi.
hingga bagimu jatuh cinta pun terasa hambar
karena banyak sakit yang mengakar,
bahkan subur berbuah di dasar rusuk.
"apalagi?" serumu,
sembari merebut kembali nafasmu,
hanya jejak pilu kau dapati.
bagaimana bisa jatuh cinta lagi
dengan nafas yang tak lagi utuh
dan pecahan hati tercecer di ambang pintu
asa pun meluruh.
Komentar
Posting Komentar