Langsung ke konten utama

sesal yang kekal

perihal waktu yang mustahil membeku
beserta isi kepala dengan rontanya,
hidup menepuk pundak, bersamanya gesa.
bergeming pikirmu cukup, mengelak
untuk kau injak ekornya. memburumu.

tuli, sampai sapa angin tak teraba indra.
hanya sia-sia yang utuh tanpa jejak sisa.
sementara begitu tipis ia membalutmu,
jasad yang kau sangka tak terusik usia.

dalam sadar kau hambur pendar kuasa
berkali terulang hingga buta, membatu.
membatu di dalam sesal yang kekal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sembunyi

sebut saja aku begitu aku mampu menyelinap kala ingin kau bunuh gigil dengan pelukku yang hangat aku pula yang rajin merayap diam-diam ke kamarmu di sudut pikirmu lalu aku hinggap begitu seterusnya aku ini untukmu walau diam walau kubawa sembunyi kekasihmu tak akan tau bahwa selama ini aku tak biarkanmu menangis, layu bahwa selama ini aku bersedia menjadi tempat keluhmu ia takkan tau selama inilah aku yang selalu ada buatmu, tempatmu datang menjadi pelarian kekasihmu tak akan tau. /1/

Wasting.

I've been wasting most of a lot of time in my life doing something useless and it doesn't even have benefit upon me. How do I did that like everyday on my lifetime and didn't realize it at all? And keep repeating and doing all the same instead. I want everything in my life to be all as what I wanted it to be, but sometimes it doesn't always affect good on me nor important at all.

You

Sometimes I wonder, I wonder way many things I shouldn't because I know I wouldn't get the perfect answer to pay off my curiousty. I wonder the smallest thing, like do you prefer coffee or tea and how do you like it to be, served cold or maybe hot? With a teaspoon of sugar or without any, maybe adding some milk with it or not. Or maybe, just maybe do you prefer plain tasted water bottle?