Langsung ke konten utama

Postingan

baru

belum genap satu bulan memulai lembar baru sebuah proses, berdinamika. janji-janji dan komitmen yang sempat diikrarkan sebelum berpisah perlahan terkikis. bisa dengan atau tanpa sengaja lupa.

dari langit.

/1/ aku terus menangis perihal lukaku yang tak berdarah lebih pedih /2/ bercermin pada malam-malam saat aku lelap mengulum senyuman /3/ waktu-waktu buta selalu deras berderai tangis awan tak mampu lenyapkan bintang di matamu dari ingatan /4/ tetaplah tinggal aku ingin mencintaimu lebih khusyuk seumpama panjatan doa

Untuk Tuan

perlahan-lahan habis dan luruh-luruh bagai surga dalam bilik berlirik kosong karena hampa mulai penat ke entah berantah.  tanganmu mulai capai disulut ingatan, dilucuti kenangan matamu masih gapai- dada dada letih

Sesuatu

seonggok bait dicekam dingin penulisnya sibuk bercinta dengan detak lalu dikumpulkan diksi dari lelehan darah kulitnya meringis ternganga telinganya masih menangkap ribut di pembuluh beribu kali ia berbisik sendiri pada peluknya; luka itu hidup tertanam di lorong kepalanya. tentu, ia masih ingin dan barisan merah ngeri itu bukti ia mampu rasakan sesuatu.

Utuh

hatiku gerogoti semu dalam gigil usaha memeluk diri tiada hasil hanya sepi setia tak meredup. tak singgah di kepalamu ingatan akulah yang semula menyalakanmu hingga api egomu raksasa hatimu hangus, abu menjadi sisa setelah semua malah kau menjelma petir rapuhku tak mampu jinakkan terlebih kilat rindu yang menyambar. lalu kau asingkan diri dari hidupku meski tak pernah purba dari ingatan juga matamu saat kubaca dusta tinggal aku mengupayakan kembali utuh.