Aku mencoba kembali menulis, dengan menggali segala informasi tentang lomba karya tulis apapun. Tapi semuanya nggak semudah bagaimana perencanaan awal yang sudah disusun. Aku yang terkadang kelelahan sehingga memilih hiburan lain dan enggan bersinggung dengan hal-hal yang melibatkan kembali otakku untuk berfikir. Malahan aku lupa untuk menulis, atau sekedar menuangkan apapun yang ada di benakku sejak lama dalam bentuk tulisan, tak peduli akan bagaimana hasilnya.
Membuang-buang banyak waktu, itulah kegiatan sampinganku selain menulis dan karena aku jarang menulis bisa disimpulkan bahwa selama ini aku hanya membuang waktuku. Meninggalkan begitu saja banyak peluang dan potensi dalam diriku untuk hal-hal yang aku ketahui tidak bermanfaat. Bahkan jika sampai aku merasa asing dengan menulis atau tulisan aku tentu tidak akan segan-segan memarahi diriku sendiri tiada akhir.
Aku teringatkan kembali oleh keheningan di suatu malam, seakan aku khidmat menuangkan segala sesuatu yang mendongkol dan bersarang di hatiku seharian itu kepada tulisan. Tulisan yang jika aku baca kembali kini sangat memalukan atau aku harap aku tidak pernah membacanya. Namun, di samping membuatku malu itu, perasaan rindu yang entah dari mana datangnya ini tiba-tiba timbul dan seakan membuncah di ulu hati. Keinginan untuk kembali menulis, itulah.
Lucu, sungguh. Banyak orang mengatakan bahwa kita hidup di masa sekarang namun berharap pada masa lalu dan meragukan masa depan. Kita nggak benar-benar menetap dan menikmati haluan waktu di masa kini yang mungkin juga di hari esok akan kita harapkan dan sesali lagi. Begitulah dengan aku dan tulisan atau setidaknya rangkaian abjad yang membentuk kata-kata dan tersusun sebagai kalimat panjang lebar tiada habisnya itulah, tulisan.
Seiring waktu dan aku yang kini beranjak dewasa atau setidaknya bisa dikatakan demikian. Pengalaman hidup yang bisa dikiaskan sebagai ombak di laut yang terus menerus mengoyak karang dan mengikis bebatuan membuatnya semakin halus, begitu juga dengan pengalaman hidup untuk mencapai sesuatu yang benar. Namun perihnya pengalaman harus dapat memotivasi diri untuk bekal hidup selanjutnya. Dengan ini dan tulisan ini ku harap akan senantiasa mengingatkanku kepada pengalaman itu yang nantinya juga akan kubekali kepada buah hati dan keluarga kecilku kelak. Dari sini tulisan sangatlah berarti.
Aku rindu untuk menulis, kembali menulis. Tanpa memperdulikan tata bahasa dan benar tidaknya tanda baca yang aku bubuhkan pada tulisanku. Menuangkan asa yang memberatkan hati dan pikiran. Kembali menulis tanpa sebuah aim atau tujuan. Menulis untuk kelegaan hati, menyalurkan segalanya. Mengeratkan urat-urat di jemariku untuk menyatu bersama aliran darahku yang dipompa jantung yang juga senantiasa andil dalam tulisanku. Mempekerjakan setiap komponen penyusun tubuhku untuk menulis. Menggerakkanku kembali untuk menulis.
Aku merindukan adrenalin tubuhku yang terpacu ketika aku menyalurkan tulisanku. Merindukan perasaan lega itu ketika aku baru saja menyelesaikan tulisanku. Merasakan udara yang masuk di rongga paru-paruku ketika aku menulis. Terpekur dengan tulisanku, di dalam ruangan kamarku yang tertutup. Meninggalkan dunia di belakangku, menanggalkan segala permasalahan hidup yang aku hadapi di kala itu. Nobody could ever believe just how much I miss those kinds of feelings.
Dan detik ini, pada jam dan menit ini aku tumpahkan segalanya. Tentang kerinduan yang membendung dan tertanam dalam hatiku untuk menulis, melalui tulisan.
Membuang-buang banyak waktu, itulah kegiatan sampinganku selain menulis dan karena aku jarang menulis bisa disimpulkan bahwa selama ini aku hanya membuang waktuku. Meninggalkan begitu saja banyak peluang dan potensi dalam diriku untuk hal-hal yang aku ketahui tidak bermanfaat. Bahkan jika sampai aku merasa asing dengan menulis atau tulisan aku tentu tidak akan segan-segan memarahi diriku sendiri tiada akhir.
Aku teringatkan kembali oleh keheningan di suatu malam, seakan aku khidmat menuangkan segala sesuatu yang mendongkol dan bersarang di hatiku seharian itu kepada tulisan. Tulisan yang jika aku baca kembali kini sangat memalukan atau aku harap aku tidak pernah membacanya. Namun, di samping membuatku malu itu, perasaan rindu yang entah dari mana datangnya ini tiba-tiba timbul dan seakan membuncah di ulu hati. Keinginan untuk kembali menulis, itulah.
Lucu, sungguh. Banyak orang mengatakan bahwa kita hidup di masa sekarang namun berharap pada masa lalu dan meragukan masa depan. Kita nggak benar-benar menetap dan menikmati haluan waktu di masa kini yang mungkin juga di hari esok akan kita harapkan dan sesali lagi. Begitulah dengan aku dan tulisan atau setidaknya rangkaian abjad yang membentuk kata-kata dan tersusun sebagai kalimat panjang lebar tiada habisnya itulah, tulisan.
Seiring waktu dan aku yang kini beranjak dewasa atau setidaknya bisa dikatakan demikian. Pengalaman hidup yang bisa dikiaskan sebagai ombak di laut yang terus menerus mengoyak karang dan mengikis bebatuan membuatnya semakin halus, begitu juga dengan pengalaman hidup untuk mencapai sesuatu yang benar. Namun perihnya pengalaman harus dapat memotivasi diri untuk bekal hidup selanjutnya. Dengan ini dan tulisan ini ku harap akan senantiasa mengingatkanku kepada pengalaman itu yang nantinya juga akan kubekali kepada buah hati dan keluarga kecilku kelak. Dari sini tulisan sangatlah berarti.
Aku rindu untuk menulis, kembali menulis. Tanpa memperdulikan tata bahasa dan benar tidaknya tanda baca yang aku bubuhkan pada tulisanku. Menuangkan asa yang memberatkan hati dan pikiran. Kembali menulis tanpa sebuah aim atau tujuan. Menulis untuk kelegaan hati, menyalurkan segalanya. Mengeratkan urat-urat di jemariku untuk menyatu bersama aliran darahku yang dipompa jantung yang juga senantiasa andil dalam tulisanku. Mempekerjakan setiap komponen penyusun tubuhku untuk menulis. Menggerakkanku kembali untuk menulis.
Aku merindukan adrenalin tubuhku yang terpacu ketika aku menyalurkan tulisanku. Merindukan perasaan lega itu ketika aku baru saja menyelesaikan tulisanku. Merasakan udara yang masuk di rongga paru-paruku ketika aku menulis. Terpekur dengan tulisanku, di dalam ruangan kamarku yang tertutup. Meninggalkan dunia di belakangku, menanggalkan segala permasalahan hidup yang aku hadapi di kala itu. Nobody could ever believe just how much I miss those kinds of feelings.
Dan detik ini, pada jam dan menit ini aku tumpahkan segalanya. Tentang kerinduan yang membendung dan tertanam dalam hatiku untuk menulis, melalui tulisan.
Komentar
Posting Komentar