Aku tidak berhentinya terheran, aku pikir ini hanya emosi sesaat yang tengah membuncah dan meluap pada waktunya, aku pikir ini takkan berakhir lama, aku pikir semuanya akan mudah dikembalikan seperti semula.
Dugaan memang memilukan jika ternyata kenyataan asam adalah yang terasa saat ini.
Entah berapa banyak upaya telah aku usahakan untuk bisa melenyapkan, setidaknya aku merasa telah cukup menyibukkan diri untuk tidak meluangkan waktuku memikirkan hal itu, ternyata salah, salah besar. Justru itulah yang selama ini menghambat produktifitasku, menghalangi aku untuk mengabaikannya dengan sempurna, justru hal itu lah yang sering muncul dan bagaikan gentayangan di setiap sudut otak, persendian tubuh, atau apapun yang terkandung dalam badan ini, melekat kuat di darah, mengikat jantung, menyesakkan paru paru.
Kesakitan. Itulah hal utama yang mereka tinggalkan untukku, mereka menyenanginya bila aku menderita, dan membuatku seakan terhuyung jatuh tersungkur tenggelam dalam lumpur berdaya hisap kuat. Aku tak mampu lagi lakukan apa-apa, melainkan tenggelam ke dalam gelap dan sesak yang mereka tinggalkan.
Mereka bersarang. Mereka menggelayutiku dan hari-hari indahku, mengubahnya menjadi awan hitam kepekatan seakan mendung diikuti hujan dan halilintar maha dahsyat menghujam. Mereka sangatlah kuat, entah bagaimana hal itu bisa dilakukan. Mungkin mereka belajar dari kelemahanku, karena sudah terlalu lama mereka tinggal dalam aku. Entah, apa lagi yang harus aku usahakan. Haruskah aku menghapus raga ini dari memori kehidupan alam dunia? Terkubur dalam tanah perasingan menunggui peradilan? Sangatlah bodoh, karena aku tahu hal itulah yang membuktikan bahwa mereka menang.
Namun dengan diri yang sudah hancur dan serapuh ini, aku tak tahu apakah masih mampu untuk setidaknya bertahan.
Dugaan memang memilukan jika ternyata kenyataan asam adalah yang terasa saat ini.
Entah berapa banyak upaya telah aku usahakan untuk bisa melenyapkan, setidaknya aku merasa telah cukup menyibukkan diri untuk tidak meluangkan waktuku memikirkan hal itu, ternyata salah, salah besar. Justru itulah yang selama ini menghambat produktifitasku, menghalangi aku untuk mengabaikannya dengan sempurna, justru hal itu lah yang sering muncul dan bagaikan gentayangan di setiap sudut otak, persendian tubuh, atau apapun yang terkandung dalam badan ini, melekat kuat di darah, mengikat jantung, menyesakkan paru paru.
Kesakitan. Itulah hal utama yang mereka tinggalkan untukku, mereka menyenanginya bila aku menderita, dan membuatku seakan terhuyung jatuh tersungkur tenggelam dalam lumpur berdaya hisap kuat. Aku tak mampu lagi lakukan apa-apa, melainkan tenggelam ke dalam gelap dan sesak yang mereka tinggalkan.
Mereka bersarang. Mereka menggelayutiku dan hari-hari indahku, mengubahnya menjadi awan hitam kepekatan seakan mendung diikuti hujan dan halilintar maha dahsyat menghujam. Mereka sangatlah kuat, entah bagaimana hal itu bisa dilakukan. Mungkin mereka belajar dari kelemahanku, karena sudah terlalu lama mereka tinggal dalam aku. Entah, apa lagi yang harus aku usahakan. Haruskah aku menghapus raga ini dari memori kehidupan alam dunia? Terkubur dalam tanah perasingan menunggui peradilan? Sangatlah bodoh, karena aku tahu hal itulah yang membuktikan bahwa mereka menang.
Namun dengan diri yang sudah hancur dan serapuh ini, aku tak tahu apakah masih mampu untuk setidaknya bertahan.
Komentar
Posting Komentar