Langsung ke konten utama

Demons Inside

Aku tidak berhentinya terheran, aku pikir ini hanya emosi sesaat yang tengah membuncah dan meluap pada waktunya, aku pikir ini takkan berakhir lama, aku pikir semuanya akan mudah dikembalikan seperti semula.
Dugaan memang memilukan jika ternyata kenyataan asam adalah yang terasa saat ini.

Entah berapa banyak upaya telah aku usahakan untuk bisa melenyapkan, setidaknya aku merasa telah cukup menyibukkan diri untuk tidak meluangkan waktuku memikirkan hal itu, ternyata salah, salah besar. Justru itulah yang selama ini menghambat produktifitasku, menghalangi aku untuk mengabaikannya dengan sempurna, justru hal itu lah yang sering muncul dan bagaikan gentayangan di setiap sudut otak, persendian tubuh, atau apapun yang terkandung dalam badan ini, melekat kuat di darah, mengikat jantung, menyesakkan paru paru.

Kesakitan. Itulah hal utama yang mereka tinggalkan untukku, mereka menyenanginya bila aku menderita, dan membuatku seakan terhuyung jatuh tersungkur tenggelam dalam lumpur berdaya hisap kuat. Aku tak mampu lagi lakukan apa-apa, melainkan tenggelam ke dalam gelap dan sesak yang mereka tinggalkan.

Mereka bersarang. Mereka menggelayutiku dan hari-hari indahku, mengubahnya menjadi awan hitam kepekatan seakan mendung diikuti hujan dan halilintar maha dahsyat menghujam. Mereka sangatlah kuat, entah bagaimana hal itu bisa dilakukan. Mungkin mereka belajar dari kelemahanku, karena sudah terlalu lama mereka tinggal dalam aku. Entah, apa lagi yang harus aku usahakan. Haruskah aku menghapus raga ini dari memori kehidupan alam dunia? Terkubur dalam tanah perasingan menunggui peradilan? Sangatlah bodoh, karena aku tahu hal itulah yang membuktikan bahwa mereka menang.

Namun dengan diri yang sudah hancur dan serapuh ini, aku tak tahu apakah masih mampu untuk setidaknya bertahan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sembunyi

sebut saja aku begitu aku mampu menyelinap kala ingin kau bunuh gigil dengan pelukku yang hangat aku pula yang rajin merayap diam-diam ke kamarmu di sudut pikirmu lalu aku hinggap begitu seterusnya aku ini untukmu walau diam walau kubawa sembunyi kekasihmu tak akan tau bahwa selama ini aku tak biarkanmu menangis, layu bahwa selama ini aku bersedia menjadi tempat keluhmu ia takkan tau selama inilah aku yang selalu ada buatmu, tempatmu datang menjadi pelarian kekasihmu tak akan tau. /1/

First Post! :)

Haii :D Ini post pertamaku di blog keduaku. Aku emang bikin blog baru alasannya yang lama nggak bisa dibuka dan kalian tau kan? Manusia berhak lupa :p Blog-ku nggak istimewa karna aku juga nggak bisa apa-apa, nyebelin kan? Ajarin aku ya? Aku orang baru soalnya.. Gitu aja yaa, daahhh.. Makasih udah mau baca ini! hehe

Wasting.

I've been wasting most of a lot of time in my life doing something useless and it doesn't even have benefit upon me. How do I did that like everyday on my lifetime and didn't realize it at all? And keep repeating and doing all the same instead. I want everything in my life to be all as what I wanted it to be, but sometimes it doesn't always affect good on me nor important at all.