Pagiku bukan biru seakan kelabu
Wajah induk mentari bak tertutup abu
Wangi hembus daun kusyuk beradu
Beri aroma semerbak nan syahdu
Sedang aku duduk bergeming termangu
Terbayang akan belai kasih sang ibu
Berceritalah Ia padaku dahulu
Makhluk syurga berduka kala langit abu
Kinilah aku berjalan dewasa
Sadar mereka hanya tipuan semata
Tak mungkin atas syurga ada lara
Mereka pastilah semua sukacita
Baru ku sadar duka milik dunia
Bukanlah aku tunjuk apa atau siapa
Tetapi ketika inilah memang kurasa
Diacuhkan barulah bertanya; apa aku ada?
Tak semua pahami rasanya
Mesti aku tahu jelas sakitnya
Langit mengabu ternyata karna hatiku
Merah marun jadi kelabu beku
Tak juga semua tahu makna bait puisiku
Aku tulis karena rasaku saling beradu
Mungkin rasa hati terlalu kaku
Atau manusia tak mau mendengar aku
Wajah induk mentari bak tertutup abu
Wangi hembus daun kusyuk beradu
Beri aroma semerbak nan syahdu
Sedang aku duduk bergeming termangu
Terbayang akan belai kasih sang ibu
Berceritalah Ia padaku dahulu
Makhluk syurga berduka kala langit abu
Kinilah aku berjalan dewasa
Sadar mereka hanya tipuan semata
Tak mungkin atas syurga ada lara
Mereka pastilah semua sukacita
Baru ku sadar duka milik dunia
Bukanlah aku tunjuk apa atau siapa
Tetapi ketika inilah memang kurasa
Diacuhkan barulah bertanya; apa aku ada?
Tak semua pahami rasanya
Mesti aku tahu jelas sakitnya
Langit mengabu ternyata karna hatiku
Merah marun jadi kelabu beku
Tak juga semua tahu makna bait puisiku
Aku tulis karena rasaku saling beradu
Mungkin rasa hati terlalu kaku
Atau manusia tak mau mendengar aku
Komentar
Posting Komentar